Minggu, 31 Desember 2017

Anggota polisi tembak kepala sendiri sampai tewas di rumah mertua

 Anggota polisi tembak kepala sendiri sampai tewas di rumah mertua


Laskarindo.com - Anggota polisi tembak kepala sendiri sampai tewas di rumah mertua,
Anggota Polres Aru bernama Brigpol Marcel diduga mengakhiri hidupnya sekitar pukul 15.00 WIT dan kejadian itu berlangsung di rumah mertuanya Ipda Pol Jacob Leunupun.



Kapolres setempat, AKB Adolf Bormasa mengatakan masih menyelidiki dan mendalami penyebab kematian Brigpol Marchel Tanipa yang diduga mengakhiri hidupnya dengan cara menembaki kepalanya sendiri.

Sebelum insiden itu terjadi, Brigpol Marchel menghampiri isteri dan mertuanya dan langsung mengarahkan senjata api ke bagian kepala, sementara mertua korban sempat berteriak melarangnya.

Terkait kasus itu, Kapolda Maluku Irjen Pol Deden Juhara mengatakan, setiap anggota Polri baik perwira maupun bintara selalu wajib mengikuti tes psikologi sebelum diizinkan memegang senjata.

"Baik pamen maupun anggota biasa yang hendak memegang senjata harus diuji secara psikologi dan kalau tidak lulus maka tidak diperkenankan," kata Kapolda di Ambon, Minggu (31/12). Demikian dikutip Antara.

Menurut Kapolda, kasus seperti ini membuat seleksi bagi para anggota Polri yang dizinkan memegang senjata api semakin selektif.

"Bagi masyarakat yang masih menyimpan senpi atau bahan peledak kita juga imbau silahkan menyerahkannya ke polda atau kodam," ujar Kapolda.

Dia menegaskan ancaman hukuman dalam Undang-Undang Darurat cukup jelas dan tegas bagi mereka yang membuat, menyimpan, atau membawa senpi dan amunisi atau bahan peledak tanpa izin resmi. Tapi dia berjanji kalau diserahkan secara sukarela maka mereka tidak akan diproses hukum.

Bukti kepemilikan senpi secara ilegal bisa terlihat dari sejumlah terdakwa yang menjalani proses persidangan di Kantor Pengadilan Negeri Ambon.

Mereka diproses hukum akibat tertangkap aparat keamanan atau pun dilaporkan oleh keluarga dekat ke polisi. [ian]

Anak Bos Indofood Meninggal Tiba-Tiba, Apa Penyebabnya?

Anak Bos Indofood Meninggal Tiba-Tiba, Apa Penyebabnya?


 Jakarta Kabar duka tengah menyelimuti keluarga besar Direktur PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF) Franky Welirang. Sang anak yang bernama Deynica Welirang mengembuskan nafas terakhirnya di Singapura pada Jumat, 29 Desember 2017.



Saat ini, jenazah Deynica disemayamkan di rumah duka Mount Vernon Sanctuary, 121 Upper Aljunied Rd, Singapura. Rencananya, jenazah akan dimakamkan pada 1 Januari 2018 di Choa Chu New Christian Cemetery, Singapura.

Franky menjelaskan sang putri wafat akibat kecelakaan. "Putri kami Deynica terpeleset dan jatuh, sehingga mengalami kecelakaan yang fatal. Deynica telah berpulang dengan tenang ke Rumah Tuhan," demikian mengutip pernyataan duka Franky Welirang, Minggu (31/12/2017).

Franky mengakui jika kondisi ini membuat keluarganya sangat berduka. Dia pun berterima kasih atas dukungan dan doa dari semua pihak, sehingga keluarganya diberikan ketabahan dan kekuatan.

Deynica juga merupakan cucu Sudono Salim. Franky Welirang menikah dengan anak Sudono Salim yang bernama Mira Salim. Deynica merupakan putri kedua pasangan ini. Wanita cantik ini lahir pada 27 Desember 1978.

"Saya mengucapkan terima kasih atas ucapan belasungkawa para sahabat dan mohon dibukakan pintu permohonan maaf untuk putri kami Deynica Welirang," ujar dia.


Serunya Ijab Kabul Nurdin dan Mulyanah yang Mengundang Gelak Tawa

Serunya Ijab Kabul Nurdin dan Mulyanah yang Mengundang Gelak Tawa




laskarindo.com - Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menggelar kegiatan nikah massal pada malam perayaan tahun baru, Minggu (31/12/2017).
Satu pasangan berbahagia adalah Nurdin Basuni (58) dan Mulyanah (38) yang akhirnya pernikahannya diakui negara.


Keduanya terlihat mengenakan baju adat Betawi berwarna merah saat menjalani prosesi akad nikah.

Prosesi akad nikah yang dihadiri tetangga Nurdin dan Mulyanah penuh gelak tawa.

Nurdin mantap mengucapkan ijab kabul dihadapan penghulu dan sejumlah kerabat yang ikut menyaksikan.

Acara akad nikah juga langsung dihadiri Lurah Menteng, Agus Sulaiman yang bertindak sebagai saksi nikah pasangan yang sudah memiliki 6 orang anak tersebut.

Setelah berjabat tangan dengan penghulu dan dinyatakan sah, para tetangga, kerabat, sontak bersama-sama mengucapkan rasa syukurnya.

"Alhamdulillah," ungkap para tetangga, tamu, dan keluarga yang hadir di park and ride, Thamrin 10, MH.Thamrin, Jakarta Pusat, Minggu (31/12/2017).

Mulyanah yang ditemui usai melakukan prosesi akad nikah mengungkapkan rasa syukur dan kelegaannya.
Lantaran pernikahannya akhirnya diakui negara setelah menikah siri selama 25 tahun.

"Lega, akhirnya sah juga," singkat Mulyana.

Ia mengaku akan membuatkan keenam orang anaknya akte kelahiran agar bisa melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi dengan mengikuti program kesetaraan, serta anak-anak mereka dijamin oleh program kesehatan pemerintah atau BPJS.

"Mau bikin akte buat semuanya. Biar sekolah bisa dibantu pakai KJP dan BPJS," ujarnya.

Sehari-harinya, Nurdin bekerja serabutan, sedangkan Mulyana hanya berprofesi sebagai buruh cuci.

Penghasilan Nurdin pun tak menentu, sementara Mulyana diupah sebesar Rp 80.000 per bulan.